1. Variasi Hasil Pengukuran.
Di dalam ilmu sosial mengukur sikap dari manusia bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan objek yang dipelajari tidak nampak dan alat ukur yang distandarisasi belum ada. Oleh karena itu banyak faktor yang menyebabkan variasi hasil pengukuran dalam ilmu sosial. Berikut adalah faktor yang menyebabkan variasi hasil pengukuran dalam ilmu sosial khususnya psikologi sosial.
§ Keadaan Objek yang Diukur. Faktor-faktor momental seperti suasana hati, kesehatan, kepentingan individu saat diajak berbicara menyebabkan hasil pengukuran yang berbeda di setiap suasana yang berbeda.
§ Situasi Pengukuran. Misalnya: dalam mewancarai seseorang bila ada orang lain yang menyertai, maka hasil wawancara akan berbeda jika orang tersebut mengerjakan sendiri.
§ Alat Ukur yang Digunakan. Dalam psikologi dan ilmu sosial, alat ukur yang biasaya digunakan adalah butir-butir pernyataan. Bila butir pertanyaan sesuai dengan tujuan pengukuran maka alat ukur dapat dikatakan baik dan begitu sebaliknya. Butir pertanyaan yang baik memungkinkan untuk pengukuran secara tepat.
§ Penyelenggaraan pengukuran. Maksudnya adalah kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja pada saat pengukuran. Misalnya, pengukur yang belum menguasai alat ukur, pengukur menamah-nambah administrasi pengukuran sehingga akan diperoleh hasil yang tidak sebenarnya.
§ Pembacaan dan atau penilaian hasil pengukuran. Misal, saat menilai hasil skorsing, pengukur mengantuk dan salah dalam memasukan data. Atau pengukur yang salah menulis karena terlalu letih dan kurang konsentrasi. Hal tersebut dapat menyebabkan variasi hasil dalam pengukuran
2. Alat Ukur yang Baik.
§ Valid atau jitu. Misalnya jika alat diciptakan untuk mengukur sikap, maka alat ukur harus mampu mengukur sikap yang akan diukur, bukan mengungkap hal-hal lain.
§ Teliti. Maksudnya alat mampu memberikan pengukuran sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jika hasilnya baik maka alat ukur harus mengatakan baik.
§ Reliable atau handal, artinya jika pada waktu tertentu alat menunjukan skala tertentu mengenai sikap seseorang, pada waktu yang lain alat harus menunjukan hasil yang sama. Akan tetapi karena dalam psikologi dan ilmu sosial objek ukuran adalah manusia, maka hal tersebut sulit untuk terpenuhi.
3. Cara pengukuran sikap
v Pengukuran sekap secara langsung
Pengukuran secara langsung maksudnya subjek secara langsung diminta pendapat bagaimana sikapnya terhadap sesuatu yang dihadapkan kepadanya. Sedangkan pengukuran secara langsung dapat dibedakan menjadi:
a. Pengukuran sikap secara langsung tak berstruktur.
Pengukuran dengan model ini sebenarnya cukup sedarhana dan hanya membutuhkan sedikit waktu. Akan tetapi hasil dari pengukuran tidak cukup mendalam. Caranya dengan observasi langsung ataupun dengan wawancara. Kemudian diambil kesimpulan dari data yang diperoleh.
Misal: jika di suatu desa tiap keluarga mempunyai tempat MCK sanitasi, dan tempat sampah yang baik, maka dapat disimpulkan bahwa sikap warga desa terhadap kesehatan dan kebersihan adalah positif. Dan begitu sebaliknya.
b. Pengukuran sikap secara langsung yang berstruktur
§ Pengukuran sikap model Bogadus (skala Bogardus)
Bogardus berpendapat bahwa dalam suatu kelompok ada intensitas hubungan yang berbeda satu dengan yang lain diantara para anggotanya, demikian pula adanya perbedaan intensitas hubungan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Bogardus menggunakan pernyataan-pernyataan (statement) untuk mengetahui tingkatan intensitas dari kelompok satu dengan kelompok lain. Sehingga dapat diketahui seberapa jarak sosial dari kelompok satu terhadap kelompok lain.
Skala diukur dengan memberikan pernyataan-pernyataan kepada anggota dari kelompok-kelompok yang berbeda. Pernyataan Bogardus sudah disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai tingkatan-tingkatan penerimaan atau penolakan pada pernyataan tersebut. Kemudian presentase pernyataan yang diterima diurutkan dari kelompok yang paling banyak menerima pernyataan ke kelompok yang semakin sedikit menerima pernyataan. Maka tingkatan perbedaan intensitas hubungan antar kelompok akan terlihat jarak sosial antar kelompok tersebut.
§ Pengukuran Sikap Model Thrustone
Pengukuran Thrustone juga menggunakan skala, tetapi mempunyai corak yang lain dengan skala Bogardus. Bogardus meneliti tentang jarak sosial sedangkan Thrustone yang diteliti bukanlah masalah jarak.
Dalam skala Thrustone, digunakan pernyataan-pernyataan yang disusun sedemikian rupa hingga merupakan rentangan (range) dari yang favorable sampai yang paling unfavorable. Pernyataan-pernyataan itu, disampaikan kepada subjek dalam suatu formulir (form). Masing-masing pernyataan, dalam skala Thrustone telah mempunyai nilai skala sendiri-sendiri. Nilai skala (scale value) tersebut bergerak dari 0,0 (yang merupakan ekstrim bawah yang artinya menolak pada pernyataan tesebut) sampai dengan 11,0 (yang merupakan ekstrim atas yang artinya sangat setuju dengan pernyataan tersebut). Pernyataan tersebut disusun dari skala ekstrim bawah ke tinggi. Kemudian dari data yang diperoleh pernyataan dikumpulkan berdasarkan kategori pernyataan.
Kemudian dari nilai yang diperoleh menunjukan sikap seseorang terhadap masalah yang dihadapi. Semakin tinggi nilai maka sikap orang tersebut semakin positif pada masalah yang diajukan dan sebaliknya.
§ Pengukuran sikap model Likert
Pengukuran sikap model Likert juga dikenal dengan pengukuran sikap skala Likert, karena likert dalam melakukan pengukuran sikap juga menggunakan skala. Skala Likert dikenal sebagai judgment method.
Dalam menciptakan alat ukur, Likert juga menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima jawaban alternative atau tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Subyek yang diteliti disuruh memilih salah satu dari lima alternative jawaban yang disediakan. Lima alternative jawaban yang dikemukakan oleh Likert, yaitu:
* Sangat setuju (strongly approve)
* Setuju (approve)
* Tidak mempunyai pendapat (undecided)
* Tidak setuju (disapprove)
* Sangat tidak setuju (strongly disapprove)
Alternative jawaban tersebut memiliki nilai 1-5. Mana yang mendapatkn nilai 1 atau 5 tergantung pernyataannya. Bila pernyataan sifatnya positif dan orang tersebut sangat setuju maka pernyataan tersebut memiliki nilai 5 dan sebaliknya.
v Pengukuran sikap secara tidak langsung
Pengukuran sikap secara tidak lansung yaitu pengukuran menggunakan alat-alat tes, baik yang proyektif maupun non proyektif. Misal dengan tes Rorschahch, TAT, dan dengan melalui analisis yang cukup rumit, peneliti dapat mengetahui bagaimana sikap seseorang terhadap keadaan sekitarnya.
Azwar Saifudin. 1993. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Daniel J. Mueller/Edi Soewardi Kartawidjaja. 1989. Measuring Social Attitudes
(Mengukur sikap sosial). Jakarta: Bumi Aksara
Gerungan. 2004. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama
Walgito Bimo. 2003. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi